Sudah Saatnya Ilmu Otomotif Menyelamatkan Bumi

Sudah Saatnya Ilmu Otomotif Menyelamatkan Bumi – Selama lebih berasal dari satu abad, sumber kekuatan alam yang ada di di dalam bumi dikeruk demi mengembangkan industri otomotif. Minyak diambil alih berasal dari kedalaman ratusan hingga ribuan meter, dan diolah menjadi bahan bakar dan juga pelumas.

Selain gunakan sumber yang tidak sanggup diperbarui di dalam waktu singkat, kehadiran kendaraan bermotor juga sebabkan bumi diselimuti polusi. Dampaknya amat mengerikan, di mana kalau terus dibiarkan maka semua makhluk hidup sanggup terancam nyawanya.

Kini, udah saatnya semua ilmu ilmu yang digunakan untuk sebabkan kendaraan menjadi canggih, dipakai menyelamatkan planet ini. Salah satunya, layaknya ajang Shell Eco-marathon yang udah digelar sejak 1985.

Hadir pertama kali di Asia pada 2010, perlombaan SEM bukan hanya sekadar menguji kekuatan peserta di dalam hal memacu kendaraan di dalam waktu sesingkat-singkatnya. Acara ini dibuat untuk mendapatkan solusi kekuatan di masa depan, yang lebih ramah lingkungan.

dari laman resmi Shell Indonesia, Senin 4 Januari 2021, kunci utama untuk memperoleh solusi tersebut adalah bersama dengan kolaborasi. Itu sebabnya, ajang ini digelar tiap-tiap tahun di tiga wilayah, yaitu Asia, Amerika dan Eropa.

Masyarakat Indonesia sanggup bangga, gara-gara perwakilan berasal dari sebagian mahasiswa yang ikut dan juga di dalam ajang tersebut pernah menoreh prestasi sebagai juara dunia, yaitu di 2018. Kendaraan ciptaan tim Sapuangin berasal dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya menjadi yang pertama melintasi garis finis.

Mereka beradu bersama dengan mahasiswa berasal dari universitas paling baik berasal dari banyak negara, mencurahkan ilmu sains, matematika, teknik, dan teknologi di dalam sebabkan mobil yang sanggup melaju bersama dengan penggunaan bahan bakar di dalam kuantitas yang amat sedikit, yaitu 314,5 kilometer per liter.

Ada dua kelas yang dipertandingkan, Urban Concept dan Prototype. Kelas pertama mengharuskan peserta untuk sebabkan mobil bersama dengan wujud semirip kemungkinan bersama dengan kendaraan yang dijual umum, juga kelengkapan layaknya penghapus kaca dan empat roda.

Sementara, kelas Prototype memperbolehkan peserta untuk menuangkan kekuatan paling baik mereka merancang wujud kendaraan yang minim halangan udara. Tim berasal dari Institut Teknologi Bandung pada ajang SEM Asia 2019 sukses mencatat angka konsumsi bahan bakar 926 kilometer per liter.

Ada fakta lain yang tidak kalah membanggakan, di mana pada SEM Asia 2018 sebanyak 11 tim mahasiswa berasal dari Indonesia sukses selesaikan lomba di kelas Urban Concept bermesin bensin.

Yakni ITS Surabaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Universitas Indonesia, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Semarang, Universitas Lampung, Politeknik Negeri Pontianak, Politeknik Negeri Jakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Institut Teknologi Medan.

Sementara, ajang SEM Asia 2019 pada kelas yang mirip diikuti oleh tim berasal dari ITS, UNY, UI, UGM, Universitas Diponegoro Semarang, UNJ, Universitas Negeri Semarang, Universitas Lampung, Politeknik Manufaktur Negeri Bandung, dan juga Universitas Bina Nusantara.

Sesuai rancangan awal, ajang ini tidak hanya melombakan kendaraan bersama dengan mesin berbahan bakar bensin atau diesel saja. Ada juga kelas yang mengharuskan peserta untuk bertanding gunakan penggerak motor listrik dan hybrid.

Contohnya, tim Semar berasal dari UGM Yogyakarta pada 2019 sukses menempuh jarak 386,8 km bersama dengan hanya kekuatan listrik 1 kilo Watt hours. Sementara, tim Batavia Generation berasal dari UNJ mencatat angka 256,7 km per kWh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *