Cara Kerja Fitur Honda Sensing Pada di CR-V, Odyssey dan Accord

Cara Kerja Fitur Honda Sensing Pada di CR-V, Odyssey dan Accord

Cara Kerja Fitur Honda Sensing Pada di CR-V, Odyssey dan Accord

Faktor keamanan berkendara konsisten mendapat perhatian, sejalan perkembangan teknologi. Tak sudi kalah bersama pabrikan lain. Honda Prospect Motor (HPM) kini membekali sejumlah model bersama fitur Honda Sensing. Itu tertanam di CR-V, Odyssey dan Accord yang jadi product pertama mendapatkannya. Nilai menjual inilah yang ditawarkan pabrikan kepada costumer di Indonesia. Namun ada biaya lebih kecuali Anda idamkan mendapatkannya.
FS88BET
Ambil misal CR-V Prestige yang baru saja dirilis. Dibanding varian turbo reguler, selisihnya kurang lebih Rp 55 jutaan. Tapi itu sebanding untuk mengongkosi Honda Sensing sebagai paket fitur unggulan di tiga product HPM. Nah, “indera perasa” itu merupakan kesatuan peranti keselamatan canggih dari pabrikan. Fungsi utamanya, meminimalisasi potensi kecelakaan saat berkendara. Secara garis besar ada tujuh bagian yang dapat mengakibatkan pengendara lebih nyaman dan aman.

Secara umum, faedah Honda Sensing meliputi bermacam peranti. Misalnya saja Collision Mitigation Braking System (CMBS), Forward Collision Warning (FCW) – Integrated with CMBS, Lane Keeping Assist System (LKAS) dan Road Departure Mitigation (RDM). Lalu ikut diimbuhi pula oleh Lane Departure Warning (LDW), Adaptive Cruise Control (ACC) with Low Speed Follow (LSF) serta Auto High Beam.

Beberapa saat lalu, OTO.com sempat menjajal keunggulan perangkat itu. Pengujian memakai Honda Accord di Proving Ground Bridgestone. Dimulai dari fiitur pertama, Collision Mitigation Braking System (CMBS). Ia bekerja memakai milimeter wave radar unit yang kasat mata. Posisinya terdapat identik di belakang grille depan. Kemudin monocular camera diposisikan di antara kaca spion tengah serta kaca depan. Keduanya terintegrasi, mendeteksi situasi objek di depan mobil.

Mobil pun diajak melaju terhadap kecepatan 20-30 km/jam. Di depannya, terpasang obstacle berwujud mobil terhadap jarak 100 menter. Begitu sang kendaraan mendekati objek, ada peringatan visual dan audio. Anda sesudah itu diingatkan agar menyita tindakan koreksi. Namun kecuali pengemudi tidak cukup tanggap lebih-lebih potensi tabrakan berlanjut, secara segera komputer lewat Collision Mitigation Braking System (CMBS) menyita alih. Ia segera menerapkan step pengereman otomatis, meski Anda tak menyentuh pedal rem sedikitpun. Jadi, perannya besar di dalam mengurangi dampak tabrakan. Apalagi misal, pengendara lengah atau meleng.

Yang kedua, Road Departure Mitigation (RDM). Fitur memakai kamera monokular untuk mengetahui garis solid dan putus-putus yang terkandung di jalan raya, termasuk marka pembatas jalan. RDM memakai EPS untuk merawat kendaraan selalu terhadap lajurnya. Misal, kecuali kendaraan terdeteksi terlihat dari lajur dan melintasi garis solid pembatas jalan. Sistem bekerja lewat VSA, untuk mengembalikan kendaraan ke lajur semula. Setir sedikit berikan koreksi otomatis. Namun Anda yang selalu memegang kendali.

Ia masih satu bagian dari Lane Departure Warning (LDW). Fungsinya memberikan peringatan kepada pengemudi, kecuali kendaraan terdeteksi meninggalkan lajur tanpa mengaktifkan lampu sen. Sistem ini bekerja saat kendaraan melaju di antara kecepatan 72 sampai 180 km/jam. LDW memakai kamera yang sama, memberikan peringatan visual dan getaran sebelum akan proses lainnya bekerja.

Lalu yang menarik lagi, berwujud Adaptive Cruise Control (ACC) with Low-Speed Follow. Sangat tidak serupa bersama cruise control biasa. Ini sangat mungkin Anda sesuaikan kecepatan dan jarak bersama kendaraan di depan, cocok yang diinginkan. Kamera monokular terus menerus mengukur jarak bersama kendaraan yang terdeteksi di depan. Lalu sesuaikan kecepatan mobil untuk menjaga jarak yang telah ditentukan. Anda dapat memilih pengaturan jarak Short, Medium, Long atau Extra Long.

Jika diperlukan, proses lakukan pengereman otomatis dapat kendaraan di depan berhenti mendadak. Untuk mengaktifkan kembali, tekan tombol Res+ terhadap setir bagian kanan. Kemudian fitur terakhir, Auto High-Beam Headlights. Cara kerjanya di awali dari memosisikan tuas lampu diputar dari low beam ke posisi auto. Saat Anda berkendara di atas kecepatan 40 km/jam. Sistem ini secara intuitif siap berubah antara lampu besar dan lampu normal tergantung terhadap situasi jalan. Juga tergantung terhadap tingkat cahaya di luar mobil.

Canggih sekali perangkat itu, bukan? Namun perusahaan selalu mengimbau, pengemudi ialah sebagai pemegang tanggung jawab dan kendali utama. Honda Sensing tidak dapat seluruhnya menukar faedah kendali pengemudi. Dan ia sesungguhnya ditujukan sebagai pencegahan saja. Anda selalu berperan aktif di dalam lakukan tindakan pencegahan, termasuk saat memakai proses ini. Jika dikehendaki, beberapa fitur dapat dimatikan oleh pengemudi.

Kunjungi Juga : Berita Otomotif Terbaru Indonesia

“Honda Sensing itu bukan untuk mencegah adanya kecelakaan. Tapi dapat mengurangi risiko terjadi kecelakaan. Dan fitur ini termasuk tergantung terhadap pengemudinya. Lalu fitur keselamatan itu semua kudu cocok bersama buku pedoman serta bagaimana merawatnya agar hal itu dapat bermanfaat bersama baik,” ucap Yusak Billy, Business Innovation plus Sales & Marketing PT Honda Prospect Motor, usai merilis product baru secara virtual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *